INI HALAMAN BLOG

Alasan Ini Membuat Ekonomi Indonesia Terhambat

Pedagang Kaki Lima (Pexels.com)

Sebuah konferensi di Singapura tanggal 15 Januari 2019 lalu mendatangkan beberapa pejabat Indonesia serta pengusaha milik negara dan seorang pegawai negeri senior. Semuanya naik ke panggung mencoba untuk mengajak para investor swasta untuk berinvestasi di pembangunan jalan dan kereta api.

Para investor yang mendengarkan presentasi dari pejabat Indonesia ini hanya mengangguk. Namun tak semua yakin dengan presentasi tersebut. Menurut mereka, berinvestasi di Indonesia  seperti makan buah simalakama. Ada kemungkinan bisa berhasil, namun kemungkinan untuk gagal pun sangatlah besar. Ada beberapa alasan yang disebutkan dalam konferensi tersebut, salah satunya adalah masalah dalam negara.

Dilansir dari The Economist, inilah beberapa alasan mengapa investor Indonesia sedikit ragu dalam berinvestasi di Indonesia.

Pengembalian Investasi Masih Belum Sesuai


Selama kampanye 2014 lalu, Jokowi berjanji untuk memberikan pertumbuhan PDB sebesar 7% per tahun di akhir masa jabatan pertamanya. Namun sayangnya, hal tersebut tidak terjadi. Hingga tahun ini, Jokowi hanya dapat meningkatkan PDB hanya sebesar 5% saja semenjak ia menjabat. Menurut para investor, prospek 2019 ini sedikit tidak baik. Terutama dikarenakan bank sentral telah meningkatkan suku bunga sebanyak enam kali dalam sembilan bulan terakhir untuk menahan penurunan nilai mata uang.

Apakah hal tersebut terbilang tidak sesuai? Secara angka memang hal ini tidaklah sesuai, namun secara realita hal tersebut masih bisa diraih. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang ekonomi. Indonesia memiliki piramida demografi yang terbalik di mana lebih dari setengah populasinya ada pada usia produktif, yaitu kurang dari 30 tahun. Tingkat tabungan nasionalnya berada di atas 30% dari PDB. Perekonomiannya secara rutin naik turun pada level 7% setahun sebelum krisis keuangan Asia di tahun 1997.

Infrastruktur yang Tidak Merata


Saat Jokowi menjabat, Bank Dunia menghitung bahwa tingkat pertumbuhan potensial di Indonesia adalah 5,5%. Cara terbaik untuk meningkatkan jumlah tersebut adalah dengan menghidupkan kembali sektor manufaktur, dan meniru negara-negara Asia lainnya dengan menjadi bagian dari rantai pasokan global. Sayangnya, ada banyak masalah yang menghadang, diantaranya adalah perbaikan infrastruktur dalam negeri.

Para investor mengatakan infrastruktur di Indonesia menjadi masalah utama. Harga listrik mahal dan transportasi yang mahal serta lambat membuat masalah distribusi terhambat.

Jokowi pun mengambil keputusan dengan menaruh sebanyak US$ 323 Miliar (32%dari PDB) untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk menutupi anggaran infrastruktur, beliau mengurangi subsidi bahan bakar.

Dengan dana ini, ia bertujuan untuk membangun bandara baru, pelabuhan laut yang lebih banyak, serta pembangkit listrik. Tak hanya itu, ia juga berencana untuk menambah jumlah kereta yang akan berjalan di tahun 2022 nanti. Untuk mempercepat laju ekonomi, pemerintah juga mengadakan akuisisi tanah.

Sayangnya, tahun lalu Jokowi mengubah anggaran pembelanjaan. Pengeluaran untuk subsidi energi melonjak hingga 69% dan pertumbuhan belanja infrastruktur melambat. Sejauh ini, perbaikan infrastruktur mengandalkan perusahaan memiliki negara. Karena itulah, mereka datang ke konferensi tersebut dengan harapan mendapatkan 35% pendanaan yang berasal dari sektor swasta.

Perlindungan Pengusaha Dalam Negeri


Selain kedua hal di atas, para investor merasa bahwa Jokowi masih terlalu membatasi kepemilikan asing. Setiap peraturan dilonggarkan, kaum nasionalis dalam negeri mengamuk. Sehingga hal tersebut menjadi hambatan yang membuat investor kecil hati.

Indonesia merupakan salah satu anggota dari organisasi bernama OECD. Hampir 68 negara pada organisasi dalam OECD merupakan negara kaya dan menengah. Di dalam organisasi ini ditemukan bahwa Indonesia adalah rezim ketiga paling ketat diantara seluruh negara dalam organisasi ini. Tak mengherankan jika FDI-nya menjadi bagian dari PDB terendah di organisasi ini.

Jadi, bagi Investor dunia mereka tak hanya bersaing dengan investor lainnya, tapi juga nasionalisme dan pengusaha Indonesia yang sedang tumbuh menjamur di Indonesia.

Pekerja Indonesia yang Dianggap Kurang Terampil


Investor menganggap bahwa tenaga kerja di Indonesia tidak memiliki kualifikasi yang baik dengan harga yang sepadan. Para investor bahkan mengeluh tentang kurang terampilnya pekerja Indonesia. Standar pendidikan cenderung masih rendah walaupun pemerintah sudah menyisihkan pembelanjaannya untuk anggaran sekolah. Namun sayangnya lebih dari setengah penduduk Indonesia dinilai masih buta huruf.

Baca juga: Hati-Hati, Kaum Millenial Dituntut Melek Digital Untuk Bertahan!

Dengan kualitas seperti ini, Indonesia dianggap memiliki tenaga kerja dengan harga yang cukup mahal. Sebuah survei terhadap perusahaan dari Jepang menyatakan bahwa upah pekerja manufaktur Indonesia 45% lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Vietnam. Hal tersebut dikarenakan meroketnya upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Bahkan ada beberapa kabupaten yang memiliki gaji rata-rata negara secara keseluruhan. Untuk menghentikan tren ini, pemerintah pusat membatasi kenaikan upah minimum di tahun 2015 silam.

Download aplikasi easypay

Suka dengan artikel ? Bagikan ke orang terdekat