INI HALAMAN BLOG

Alasan Mengapa Orang Indonesia Masih Enggan Membuka Rekening Bank

buka rekening 1024x768
Illustrasi buka rekening bank (Pexels.com)

Meskipun produk jasa keuangan seperti produk perbankan sudah dinikmati oleh banyak masyarakat Indonesia, namun kenyataannya masih banyak masyarakat yang belum mengenal apalagi menggunakannya.

Dilansir dari Inews.Id, total pemilik rekening di Indonesia hanya sekitar 168.4 juta sedangkan populasi Indonesia hingga saat ini memasuki angka 256 juta jiwa. Berdasarkan laporan yang dirilis Bank Dunia dalam Global Findex (Financial Inclusion index), 33 persen (data bulan 2 Februari 2018) diantaranya mengaku tidak memiliki rekening dikarenakan adanya jarak yang cukup jauh dengan bank penyedia. Padahal, di tahun 2017 lalu tercatat sekitar 195 juta penduduk Indonesia menggunakan ponsel pintar.

Hal ini memang sangat disayangkan karena dengan memiliki rekening tabungan, masyarakat akan mendapatkan keuntungan pengelolaan keuangan yang lebih terarah. Misalnya ketika kamu rajin menabung 20 persen dari penghasilan per bulan, kamu akan lebih mudah mengontrolnya. Ditambah lagi, setiap transaksi keluar masuknya uang, masuk ke dalam buku tabungan. Kamu bisa dengan mudah mengetahui uang keluar tersebut digunakan untuk apa saja? Begitu juga dengan jumlah uang yang masuk, melalui buku tabungan semua transaksi akan tercatat.

Baca juga: Niat Menabung? Ini Dia Jumlah Uang yang Harus Kamu Tabung Setiap Bulannya

Permasalahan ini kemudian menimbulkan pertanyaan mengapa mengapa masyarakat Indonesia masih enggan membuka rekening!

Tidak Memiliki Uang untuk Saldo Minimal atau Setoran Pertama


Saat membuka rekening bank, umumnya calon nasabah akan diberikan formulir pembukaan dan melakukan penyetoran uang pertama. Setiap bank memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai penyetoran uang pertama dalam rekening, tapi umumnya bank akan meminta para nasabahnya untuk memasukkan kurang lebih Rp 500.000,- untuk nominal setoran pertama. Bagi sebagian besar masyarakat, nominal tersebut dinilai terlalu besar dan mereka tidak menyanggupi nominal tersebut.

Tak hanya itu saja, para nasabah juga harus mengendapkan uang dalam rekening tersebut. Kembali lagi, saldo minimal sangat bervariasi per bank-nya. Ada yang hanya menuntut nasabahnya memiliki saldo minimal Rp 10.000 – Rp 20.000. Namun, ada beberapa bank yang mengharuskan nasabahnya untuk mengendapkan uang lebih dari Rp 50.000,-. Hal tersebut dinilai sangat memberatkan Nasabah.

Lokasi Tidak Terjangkau


Insfrastruktur di Indonesia bisa dibilang masih kurang seimbang. Bila kita tinggal di Pulau Jawa, bisa beberapa kantor cabang bank dan ATM relatif mudah ditemukan, walaupun jaraknya memang kurang bersahabat. Namun, coba kamu pikirkan bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di luar pedalaman atau luar Jawa? Jumlah kantor cabang relatif lebih sedikit dengan jarak yang sangat jauh.

Anggota Keluarga Lain yang Sudah Memiliki Rekening


Selain dikarenakan setoran pertama dan lokasi yang kurang bersahabat, banyak responden survei yang mengatakan bahwa mereka tidak memiliki rekening dikarenakan anggota keluarga lainnya yang tinggal satu rumah sudah memiliki rekening. Kondisi ini kebanyakan terjadi pada anggota keluarga yang tinggal di pedesaan. Mereka berpikir bahwa bank cukup jauh untuk dijangkau dan tak semua anggota keluarga akan pergi ke bank setiap harinya, untuk itu dalam satu keluarga mereka hanya membuat satu rekening bank untuk bersama. Tak hanya lebih efisien, hal ini juga mengurangi beban nominal saldo minimal serta potongan biaya admin yang cukup besar.

Bunga Tabungan Mahal


Rata-rata orang menabung ke bank adalah untuk mendapatkan bunga. Sayangnya, saat ini bunga bank tidak sesuai dengan inflasi yang ada. Bahkan, butuh setidaknya Rp 17 juta untuk mendapatkan bunga Rp 17.000 per bulan. Sedangkan biaya admin-nya bisa mencapai Rp 13.000 per bulannya.

Administrasi yang Tak Lengkap


Ada semacam hambatan psikologis untuk masuk ke bank, misal harus bersepatu. Atau belum tentu punya KTP. Belum lagi, hambatan transaksi di mana transaksi perbankan harus dilakukan di cabang bank atau di ATM yang belum tentu tersedia di banyak tempat. Ingat, tidak semua masyarakat Indonesia melek
technology finance walaupun mereka menggunakan ponsel pintar.

Suka dengan artikel ? Bagikan ke orang terdekat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *