INI HALAMAN BLOG

Masa Depan Perbankan: Fintech Atau Techfin?

Illustrasi wanita bekerja (Pexels.com)

Saat ini Industri perbankan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Selama beberapa tahun terakhir, lembaga keuangan konvensional dan perusahaan fintech non-konvensional telah memahami bahwa kolaborasi antara perusahaan penyedia layanan pembayaran dan Bank konvensional dapat tumbuh signifikan di waktu yang cukup panjang. Pada saat yang sama, perusahaan teknologi berbondong-bondong menawarkan layanan keuangan dengan menciptakan solusi dengan teknologi tinggi.

Dasar pemikiran kolaborasi ini merupakan sebuah strategi untuk membawa kekuatan dari kedua belah pihak yaitu perusahaan fintech dan bank konvensional untuk sama-sama menciptakan entitas yang lebih kuat dibandingkan berdiri sendiri. Untuk sebagian besar perusahaan fintech, mereka memiliki pola pikir modern serta inovasi yang tiada henti. Tak lupa kelincahannya dalam menyesuaikan pasar dan konsumen serta infrastruktur yang dibangun untuk dunia digital. Ini adalah keuntungan besar yang tak dimiliki oleh lembaga keuangan konvensional.

Sedangkan untuk lembaga perbankan, mereka memiliki skala konsumen yang lebih besar serta kepercayaan masyarakat yang lebih kuat. Mereka juga memiliki modal yang memadai dan pengetahuan luas mengenai peraturan finansial dalam negeri.

Menurut Laporan Fintech Dunia tahun 2018 dari CapGemini dan LinkedIn, yang bekerjasama dengan Efma,”Sebagian besar perusahaan fintech yang sukses kebanyakan telah memiliki segmentasi konsumen yang cukup sempit. Sayangnya, mereka kurang mendapatkan respon baik dari lembaga keuangan konvensional. Namun, mereka berhasil menarik perhatian pengguna dan bahkan mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari usaha mereka sendiri. Sedangkan, lembaga keuangan konvensional memiliki konsumen yang cukup luas dan ‘modal’ yang cukup memadai. Perbedaannya, lembaga keuangan konvensional memiliki sistem birokrasi yang ‘menahan’ pergerakan mereka.”

Baca juga: Sedang Naik Daun, Ini Dia Jenis Fintech yang Ada di Indonesia​

Tantangan yang dihadapi saat ini ialah kemampuan untuk membangun lingkungan finansial di mana kerjasama antara kedua belah pihak (fintech, techfin, dan bank konvensional) sangat dibutuhkan agar konsumen dapat menikmati layanan keuangan digital yang maksimal.

Fintech vs Techfin

 

Perbedaan antara fintech dan techfin didasarkan pada kelembagaan yang menaunginya. Fintech biasanya mereferensikan pada sebuah perusahaan atau lembaga di mana layanan keuangan disampaikan melalui pengalaman yang lebih baik dengan menggunakan teknologi digital untuk mengurangi biaya, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi perselisihan.

Kalau masih bingung, contoh dari layanan fintech adalah layanan mobile banking yang ditawarkan oleh bank konvensional. Untuk yang lebih umum, fintech mengacu pada layanan keuangan non-konvensional seperti PayPal, Zelle, dan lain-lain.
Sedangkan untuk techfin sendiri, biasanya direferensikan dengan perusahaan teknologi yang menemukan solusi untuk produk keuangan sebagai bagian penawaran layanan yang lebih luas. Contohnya adalah pembayaran online melalui aplikasi ojek online, Alibaba & Tencent (BAT) di Tiongkok.

Beberapa tahun yang lalu, Jack Ma, visioner teknologi, Co-Founder dan Executive Leader dari Alibaba Group, menggambarkan perbedaan jelas antara Fintech dan Techfin.

“Ada dua peluang besar di industri keuangan di masa depan. Satu adalah perbankan online, di mana semua Bank Konvensional mendigitalisasi semua layanannya; dan yang kedua adalah financial online, di mana bisnis ini akan dipimpin bukan oleh bank konvensional,” – Jack Ma

Dalam kedua jenis layanan perbankan online ini, keberhasilan lembaga keuangan serta penyedia layanan pembayaran akan didasarkan pada kemampuan pebisnis untuk mengumpulkan data konsumen hingga analisis data yang tepat. Dan juga, inovasi teknologi pembayaran secara real-time.

Mengapa Banyak Konsumen Beralih ke Fintech dan Techfin?

 

Dilansir dari Kompas (18/09/2018), hingga April 2018 fintech di Indonesia telah berhasil mencapai 1,47 juta nasabah peminjam dengan nilai Rp 5,42 triliun.

Tahukah kamu kalau mereka terdiri dari kelompok masyarakat konsumtif yang memiliki dorongan tinggi untuk mengkonsumsi suatu barang, seperti gadget, baju, makanan, dan sebagainya, dikarenakan tuntutan gaya hidup. Proses yang cepat tanpa jaminan dan akses yang mudah mendorong mereka untuk memanfaatkan fasilitas ini.

Jika kita meneropong fintech Indonesia lebih dalam lagi, ternyata hampir semuanya bekerjasama dengan perbankan konvensional. Artinya, perusahaan techfin di Indonesia masih mengandalkan dana-dana mahal dan belum bisa digunakan untuk memerankan inklusi keuangan.

Suka dengan artikel ? Bagikan ke orang terdekat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *